Aku Memilih Islam
Monday, May 10, 2021
tanya jawab mengenai zakat
Tuesday, November 12, 2013
Usai Shalat Pertama, Patricia Zahra Pal Menangis
Usai Shalat Pertama, Patricia Zahra Pal Menangis
REPUBLIKA.CO.ID,Patricia Zahra Pal berusia 15 tahun saat keluarganya bermigrasi dari Hungaria ke Austria. Disana, keluarganya menetap di Villach.
Bagi Patricia, tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia harus menguasai bahasa Jerman, bahasa yang banyak dipakai warga Austria.
"Jujur, aku rindu dengan tempat tinggalku sebelumnya. Banyak teman, yang membuatku mudah menghilangkan mood tdak enak," kata dia seperti dilansironislam.net, Selasa (12/11).
Suatu hari, perempuan asal Chenchya mendatangi Patricia. Senyum ramah terlepas dari perempuan berhijab itu. Ini adalah pertemuan pertama Patricia dengan seorang Muslim.
Di kampung halamannya, Patricia tidak pernah bertemu seorang Muslim. Ini karena ia sibuk dengan rutinitasnya. Namun, Austria begitu berbeda, di sini banyak komunitas agama berbeda, seperti Yahudi, Buddha dan Islam."Informasi soal Islam hanya didapatnya melalui media. Jelas, pemberitaannya begitu negatif. Tapi saya acuhkan itu," kata dia.
Seiring pertemannya dengan perempuan Chechnya, Patricia semakin paham kalau seorang Muslim itu sama seperti umat agama lain. Mereka tidak seburuk yang digambarkan media massa. "Mereka justru membantu menguasai bahasa Jerman. Mereka melindungiku dari teman-teman yang meledeku," kata dia.
Yang menarik perhatian Patricia ketika bersosialisasi dengan kawannya yang Muslim, adalah bagaimana mereka berinteraksi satu dengan yang lain. "Mereka punya tata cara bergaul antara laki-laki dan perempuan, seperti ada batasan. Tentu ini ada maksudnya. Tapi saya kagum bagaimana lelaki Muslim melindungi teman mereka yang perempuan dengan cara yang santun," kata dia.
Ketertarikan Patricia semakin menjadi ketika ia diajak makan siang bersama di rumah salah seorang temannya yang Muslim. Di sana ia menemukan sebuah keluarga besar. Mereka shalat bersama-sama. "Mereka begitu bahagia, bersatu dan mereka seperti bersyukur dengan apa yang dimiliki," kata dia.
Patricia lalu membandingkan situasi itu dengan kebanyakan keluarga di Hungaria. Di bekas negeri komunis ini, hanya ada dua anak setiap keluarga. Kebanyakan orang tua sibuk bekerja, sehingga anak diserahkan kepada pengasuh. Tingkat stres keluarga di Hungaria juga tinggi."Beda dengan mereka, keluarga Muslim," ucapnya.
Sejak makan siang bersama itu, Patricia mulai berpikir untuk lebih mendalami ajaran Islam. Namun, satu hal yang dipikirkannya, bagaimana reaksi keluarga dan lingkungannya. Perasaan "galau" ini membuatnya tertekan. Ia pun kembali mengkonsumsi alkohol di klub malam. "Aku kenakan pakaian seksi, yang membuat banyak pria meliriku. Lalu, aku mabuk setiap pekan. Uangku habis untuk itu," kata di.
Pada titik klimaks, Patricia merasa jenuh dengan itu. Ia ingin hidupnya lebih berarti. Kembali ia teringat dengan ajaran Islam. Ia cari lagi informasi tentang Islam, hingga akhirnya ia menemukan satu keluarga yang begitu hangat, dan membantunya mendalami Islam."Aku merasa inilah saatnya. Alhamdulillah, aku menjadi seorang Muslim. Aku pun melaksanakan shalat pertamaku, dan aku menangis sejadi-jadinya," kenang dia.
Usai bersyahadat, Patricia memberitahu keluarganya soal keputusan menjadi Muslim. Keluarganya marah besar, ibunya menangis sepanjang hari. Adiknya tak lagi mau berbicara dengannya. Mereka pun tak mau memandangi Patricia yang telah berhijab."Aku menangis, dan mengadu kepada Allah. Alhamdulillah, Dia mendengar keluhanku, ia mendapatkan pekerjaan yakni mengajar disebuah sekolah pemerintah," kata dia.
Serjalan seiring waktu, keluarganya tak lagi menjauhinya. Mereka menerima Patricia apa adanya. Bahkan, ibunya tak lagi memasakan daging babi. Kebahagiaan Patricia kian lengkap ketika ia menemukan pendampingnya. "Alhamdulillah, aku panjatkan rasa syukur kepada Allah atas hidayah dan rahmat-Nya," kata dia.
Thursday, November 7, 2013
Susannah: Islam Hormati Posisi Perempuan
Susannah: Islam Hormati Posisi Perempuan
REPUBLIKA.CO.ID, Bagaimana perempuan kulit putih menjadi Muslim. Itulah pertanyaan yang sering dialamatkan kepada Susannah.
"Banyak yang bertanya kepada saya soal itu. Bagaimana saya memutuskan menjadi Muslim," kenang dia seperti dilansir onislam.net, Kamis (7/11).
Susannah dibesarkan di AS dalam keluarga kelas menengah. Keluarganya memiliki latar belakang Kristen, tapi tidak cukup intens menghadiri gereja. Agama hanya berposisi sebagai tradisi.
"Yang aku ingat soal ajaran Kristen adalah soal Yesus," kenang dia.
Perkenalannya dengan Islam di mulai ketika ia mengikuti kelas sejarah dunia. Saat itu, Susannah masih kelas sembilan. "Aku ingat, saya tidak bisa memasuki masjid karena mengenakan celana pendek," kata dia.
Yang menjadi pertanyaan Susannah, mengapa dilarang memasuki masjid meski sebenarnya ia mengenakan pakaian yang cukup sopan untuk ukuran Amerika."Lalu imam masjid itu berkata kepada saya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, intinya saya merasa terkesan dengan hal tersebut," kenangnya.
Satu setengah tahun kemudian, tetangga barunya bernama Umm Ali. Susannah diundang makan bersama tetangganya. Satu hal yang mengejutkannya, yakni umm Ali mengenakan pakaian yang menutup dari kepala hingga kaki.
Awalnya, Susannah merasa tidak nyaman dengan hal itu. Tapi sikap tetangganya yang ramah meluluhkannya. "Islam, kata Umm Ali, mengajarkan kepada kami menghormati tetangga. Anda tetangga saya, dan saya harus menghormati Anda," kata Susannah menirukan suara Umm Ali.
Susanna benar-benar kikuk saat itu. Lidahnya seolah pelu. "Kami menjadi bersahabat. Bagi Umm Ali, saya merupakan sahabat non-Muslim paling dekat," kenang dia.
Seiring perjalanan waktu, keduanya kerap terlibat diskusi agama. Tapi memang lebih banyak Susannah yang bertanya soal Islam. Memasuki bulan Ramadhan, Umm Ali mengundangnya sahur dan berbuka puasa.
"Rasa sayangnya, prilakunya benar-benar mengena dihatiku. Tapi saya waktu itu belum tertarik belajar tentang Islam," kata dia.
Memasuki jenjang kuliah, Susannah mulai serius mempelajari agama. Ia memulainya dengan mempelajari Yahudi, Budha, dan Hindu. Saat itu, Umm Ali mulai menyadari bahwa Susannah tengah mencari bimbingan. Ia pun dengan rasa kasih sayang coba membantunya.
"Satu malam saya bermimpi, saya dikelilingi kegelapan semua sisi, dan dari kejauhan ada cahaya yang terang, ada teman yang menelpon saya, tapi saya tidak bisa pergi bersamanya menuju cahaya itu," kenang dia.
Mimpi itu adalah titik klimaks bagi Susannah. "Apakah Islam yang bisa membawaku ke cahaya itu. Ternyata..ehmm, Islamlah jalan itu. Saya pun pergi mengambil syahadat, Alhamdulillah," kata dia.
Susannah mengaku Islam memberikan jawaban yang logis terhadap setiap pertanyaan yang ada dipikirannya. Ini yang tidak diperoleh dari ajaran agama yang dipelajari sebelumnya.
Satu catatan penting yang diperoleh Susannah, Islam menghormati posisi perempuan baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lainnya. "Saya benar-benar bersyukur," kata dia.
Seperti halnya mualaf lain, Susannah mendapat penolakan dari keluarganya. Pada titik tertentu, ia menerima hal ini dengan harapan kondisi ini merupakan hal yang normal.
"Saya percaya, pada akhirnya keluarganya saya bisa menerima itu. Tapi yang penting, saya mengabdi kepada Allah, menjadi Muslim yang baik, Insya Allah," ungkapnya.
Thursday, October 31, 2013
Kian Banyak Ekspatriat Asing Peluk Islam di UAE
Kian Banyak Ekspatriat Asing Peluk Islam di UAE
REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Sejak September lalu, sebanyak 290 ekspatriat di Uni Emirat Arab (UEA) memeluk Islam. Mereka yang memeluk Islam berasal dari sejumlah negara seperti Argentina, Brazil, Rusia, Cina, India dan negara lainnya.
Direktur Pusat Informasi Islam (IIC), Rashid Aljunaibi ketertarikan para eksptariat memeluk Islam dikarenakan mereka mengetahui informasi yang benar tentang Islam dan Muslim. Informasi ini sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang sebelumnya terbentuk.
"Islam mengajarkan rasionalitas dan kasih sayang. Agama ini memerintahkan pengikutnya untuk bersikap jujur, adil dan baik terhadap semua orang, mengabaikan agama, ras, bahasa dan warna kulit," kata dia seperti dikutip Khaleej Times, Kamis (24/10).
Manuel, pekerja asing asal Filipina mengaku Islam merupakan sesuatu yang asing. Ketika tiba di UEA, ia melihat seperti apa itu Islam. "Saya mulai berpikir tentang Islam. Lalu saya membaca lebih banyak tentang Islam , khususnya Al-Quran terjemahan bahasa Tagalog, saya temukan hal baru yang begitu dekat dengan saya," kata dia.
Para mualaf ini nantinya akan mendapatkan pembinaan di IIC. Bagi mereka yang kurang mampu, IIC akan memberikan bantuan. Bantuan yang diberikan beragam seperti uang tunai, pekerjaan dan lainnya.
Sejak didirikan tahun 1993, lebih dari 20.000 ekspatriat dari 200 negara memeluk Islam di IIC.
Friday, October 25, 2013
Prof David Keldani, Pendeta yang Menemukan Kebenaran Islam
Prof David Keldani, Pendeta yang Menemukan Kebenaran Islam
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa
“Saya tidak bisa menghubungkan sebab-sebab saya memeluk Islam, kecuali kepada petunjuk Allah RabbulAlamin. Tanpa petunjuk Allah, segala pelajaran atau ilmu, pembahasan dan lain-lain usaha untuk menemukan kepercayaan yang lurus ini bahkan mungkin menyebabkan orang tersesat,” ujar Prof Abdul-Ahad Dawud B.D, bekas Pendeta Tinggi di David Bangamni Keldani, Iran.
Pendeta David Benjamin Keldani,B.D, merupakan namanya sebelum berislam. Ia merupakan seorang imam katolik Roma dari sekte Uniate - Chaldean. Ia dilahirkan pada tahun 1867 di Persia dan tumbuh besar disana. Sejak kecil, ia telah dididik untuk disiapkan menjadi pendeta. David bahkan di kirim ke Roma untuk mempelajari teologi dan filsafat.
David menjadi pendeta yang aktif. Ia menghasilkan banyak karya keagamaan. Ia bahkan seringkali menulis tentang gereja di berbagai media. Prestasinya sebagai pendeta pun sangat gemilang. David bahkan pernah diutus oleh dua Uskup Agung Uniate-Chaldean Urmia dan Salinas untuk mewakili Katolik Timur pada Kongres di Perancis.
Namun di usia tuanya, ia mengalami gejolak batin. Bermula ketika terjadi perselisihan antarsekte agama yang ia anut. Ia bahkan menemukan perselisihan berdarah. Maka pertanyaan besar pun berkecamuk dalam pikirannya. Ia bertanya-tanya mengenai ragam dan warnanya agama yang ia anut. Keberagaman tersebut membuatnya mempertanyakan keauntetikan kitab suci bahkan Tuhannya.
Maka di musim panas tahun 1900, saat ia menikmati pensiun di sebuah vila di Digala, David memulai jalan hidayahnya. Ia membaca ulang kitabnya, kemudian bermeditasi. Ia mencari jawaban segala pertanyaannya.
Hingga kemudian saat pindah ke Belgia, ia bergabung kembali dengan komunitas Unitarian. David bersama komunitas pun berkunjung ke Istanbul. Disana ia bertemu ulama bernama Jemaluddin Effendi. Setelah banyak berbincang dengan sang ulama, David mendapatkan hidayahnya. Ia menemukan kebenaran di dalam Islam. David pun memeluk Islam dan mengubah namanya menjadi Abdul-Ahad Dawud.
Islam sebagai Way of Life
David merasa hidayah yang didapatkan begitu berharga. Ia bahkan tak habis pikir mengapa hatinya condong pada Islam. Mengingat sejak kecil ia telah dididik menjadi pendeta. Jika ditanya sebabnya memilih Islam, maka ia benar-benar merasakan mendapat petunjuk dari Allah. David merasa sangat beruntung mendapat petunjuk Allah.
Setelah berislam, David pun menjadi muslim yang taat. Ia mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan merasakan ketenangan dan kedamaian setelah berislam. Semua yang diajarkan Islam, ia terapkan dalam hidup. Di sisa-sisa usianya, ia menjadikan Islam sebagai cara hidupnya.
“Dan seketika saya percaya atas ke-Esaan Allah, jadilah Rasulnya, Muhammad SAW itu akhlak dan cara hidup saya,” ujar David bersyukur.
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah [2]:82)
Isi Komentar Anda
Warga AS Justru Ingin Tahu Banyak Soal Islam
Warga AS Justru Ingin Tahu Banyak Soal Islam
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Munculnya islamofobia di Amerika Serikat ternyata tidak lantas membuat masyarakat setempat anti dan alergi terhadap Islam. Sebaliknya, islamofobia tersebut dinilai justru membuat keingintahuan warga Amerika Serikat (AS) terhadap Islam semakin besar.
“Karena fobia, mereka sekarang justri ingin tahu,” ujar Guru Besar bidang Komunikasi Universitas Negeri Arizona (ASU), Prof Peter Suwarno, Kamis (24/10). Meski ada sebagian dari mereka yang memang masih takut, jelas Peter, namun banyak juga yang ingin mengenal lebih jauh tentang Islam.
Karena itu Islam di AS tetap memiliki peluang untuk berkembang lebih besar. “Bagi warga AS—kehadiran Islam ini merupakan hal yang baru,” katanya. Terlepas dari itu, masih lanjut Peter, ada fenomena menarik yang saat ini tengah terjadi di negeri yang dipimpin Presiden Barack Obama tersebut.
Munculnya islamofobia beberapa waktu lalu, ungkapnya, ikut memberikan hikmah tersendiri bagi perkembangan Islam di negara AS. Saat ini, jelasnya, pelajaran Islam di sekolah- sekolah di Amerika menjamur. Banyak orang yang ingin tahu mengenai Islam.
Baginya, fenomena ini justru harus disikapi secara hati- hati. “Karena hal ini sangat tergantung dengan bagaimana orang Muslim memperkenalkan Islam itu sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, cara- cara untuk mengenalkan Islam di AS ini masih ada yang kurang benar, seperti masih cenderung pada persoalan ritualnya.
Baginya, substansi dari nilai- nilai luhur yang diajarkan oleh Islam harus disampaikan dan diperkenalkan dengan tepat kepada warga AS. Sehingga peluang untuk memperkenalkan Islam yang rahmatan lil alamin kepada warga AS tidak menjadi kontradiktif.
Tuesday, October 22, 2013
Terpesona Kisah Yusuf Islam, Perempuan ini Akhirnya Memeluk Islam
22 Oktober 2013 19:09 WIB

Mualaf (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, Sarah de Andrade Siquiera baru mengenal Islam ketika menyaksikan tayangan dokumenter tentang kehidupan di beberapa negara Muslim. Ia menyaksikan hal yang berbeda, seperti misal, pakaian dan jilbab.
"Yang membuat saya tertarik, Muslimah menyebut itu bukan paksaan, tetapi merupakan wujud implementasi ajaran Islam dalam kehidupan," kata dia seperti dilansir onislam.net, Selasa (22/10).
Gagasan ini yang mungkin tidak dimiliki suatu negara, termasuk negara tempatnya tinggal. Ini karena, ajaran Islam memiliki keterkaitan yang erat dengan masalah ekonomi, politik dan isu-isu sosial. Sejak itu, Sarah memutuskan lebih dalam mencari tahu informasi tentang Islam.
"Pertanyaan saya yang pertama, adalah bagaimana saya mencarinya," kata dia.
Beruntung baginya, keterbatasan literatur tak menjadi soal. Dunia internet ketika itu tengah menjadi fenomena. Mulailah Sarah mencari informasi tentang Islam dan Muslim. Hal yang pertama ia "klik" adalah Yusuf Islam. Di laman itu, ia membaca proses Yusuf Islam memeluk Islam.
"Dia memilih Islam berdasarkan cinta yang murni, amal, kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Tuhan yang Maha Esa," kata dia.
Antusiasme Sarah terhadap Islam menjadi lebih besar ketimbang sebelumnya. Ia begitu bersemangat mempelajari rukun iman dan Islam. Pada tahapan itu, Sarah mulai membaca Alquran. Ketika membaca, ia mendapati akurasi ilmiah hakikat awal kehidupan.
"Saya pun memutuskan menjadi Islam," kata dia.
Keputusan yang demikian cepat tidak terlepas dari intensitas Sarah berkomunikasi dengan umat Islam. Ia sempat berdiskusi dengan mahasiswa Muslim asal Sudan. Ia juga belajar dengan Muslimah asal Mesir. Keduanya memberikan literatur tentang Islam, termasuk terjemahan Alquran berbahasa Inggris, buku-buku tentang Islam dan Jilbab
Keseriusan Sarah mendalami Islam menarik perhatian ibunya. Alhamdulillah, ibunya tertarik pula mendalami Islam. "Semoga Allah menunjukan jalan yang benar kepadanya. Terakhir yang dapat saya katakan hari ini, Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya," katanya.